Generasi Z dan Investasi: Antara FOMO, Fear of Missing Out, dan Fear of Being Left Out

Di era media sosial yang serba cepat, Generasi Z mereka yang lahir antara pertengahan 1997 hingga 2012 tumbuh sebagai digital natives yang terbiasa scroll TikTok, Instagram, dan X setiap hari. Bagi banyak dari mereka, keputusan investasi bukan lagi hasil analisis fundamental yang matang seperti membaca laporan keuangan perusahaan atau mempelajari valuasi aset. Sebaliknya, pilihan saham, kripto, atau reksa dana sering kali dipicu oleh tren viral, testimoni influencer, dan rasa takut ketinggalan atau yang lebih dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out) serta Fear of Being Left Out, varian sosialnya yang membuat mereka merasa “semua orang sudah untung, kenapa aku belum?”

Fenomena ini bukan sekadar anekdot. Survei CFA Institute dan FINRA Foundation (2023) terhadap Gen Z Amerika Serikat (usia 18–25 tahun) menunjukkan bahwa 56% dari mereka sudah memiliki investasi, dengan kripto mendominasi (55%) diikuti saham individu (41%). Lebih mengejutkan, 41% mulai berinvestasi karena FOMO, dan 50% pernah membeli aset spesifik semata-mata karena takut ketinggalan terutama kripto (57%), saham individu (32%), dan meme stocks (28%).
Di Indonesia, data KSEI per akhir Desember 2025 mencatat 20,32 juta Single Investor Identification (SID) pasar modal, melonjak 37% dari tahun sebelumnya.Lebih dari 52,59% investor berusia di bawah 30 tahun mayoritas Gen Z dan milenial muda. OJK mencatat porsi serupa (54,20% per September 2025), menjadikan generasi ini penggerak utama pertumbuhan investor ritel.
Media Sosial: Guru Keuangan yang Serba Instan
Media sosial menjadi sekolah utama. Di AS, 48% Gen Z investor belajar investasi lewat platform seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan Reddit. Di Indonesia, konten #FinTok dan #RichTok meledak, menampilkan cerita sukses cepat kaya dengan modal Rp10.000 via aplikasi Bibit, Ajaib, atau akun kripto. Finfluencer kreator keuangan menjadi panutan baru. Konten ringan, visual, dan relatable membuat topik yang dulu terasa berat jadi mudah dicerna. Namun, di balik kemudahan itu tersembunyi bias: algoritma lebih suka konten sensasional daripada peringatan risiko.
Hasilnya? Keputusan investasi sering berbasis tren, bukan data. Gen Z cenderung membeli aset yang sedang rame di timeline entah itu saham gorengan yang naik tajam, kripto yang dipromosikan selebriti, atau NFT yang viral. bagaimana FOMO mendorong anak muda membeli saham saat harga melonjak karena dorongan komunitas daring, lalu panik jual saat koreksi. Fenomena serupa terjadi global: survei Empower (2025) menemukan 70% Gen Z mengalami financial FOMO, dan sebagian besar terdorong oleh postingan teman atau influencer.