BitcoinGold

Duel Akbar Q1-2026, Emas dan Perak Sedang On Fire, Tapi Bitcoin Kok Lesu? Ini Kata Analis

Kurniawan
Feb 17, 2026
15 min read
Duel Akbar Q1-2026, Emas dan Perak Sedang On Fire, Tapi Bitcoin Kok Lesu? Ini Kata Analis

Jakarta--Tiga aset yang kerap disebut sebagai penyelamat di masa sulit sedang menunjukkan nasib yang bertolak belakang drastis di awal tahun ini. Jika logam mulia berpesta pora mencetak rekor demi rekor, raja kripto justru terpuruk dalam kelesuan yang membuat investor bertanya-tanya Ada apa sebenarnya?

Data perdagangan sepanjang Januari 2026 mencatatkan dikotomi yang jarang terjadi dalam satu dekade terakhir. Emas membukukan kenaikan 24,68% sepanjang bulan pertama tahun ini meloncat dari level US$4.100an ke sempat menyentuh US$5.500 . Perak bahkan lebih gila: melonjak 51,95% dalam 30 hari, menembus level US$120 per ons untuk pertama kalinya dalam sejarah .

Sementara itu, Bitcoin? Lesu. Setelah sempat mencapai puncak di atas US$126.000 pada Oktober 2025, harga BTC terkoreksi hampir 35% dan kini bergulat di kisaran US$77.000–US$84.000 . Bahkan sempat menyentuh US$75.724 level terendah sejak April 2025 .

Logam Mulia: Antara Spekulasi China dan Ketakutan Geopolitik

Kenaikan emas dan perak di awal 2026 bukan sekadar reli biasa. Ini adalah ledakan yang didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan psikologis yang langka.

Dari sisi makro, ketegangan geopolitik global mencapai titik didih baru. Kebijakan luar negeri AS yang agresif di bawah pemerintahan Trump mulai dari intervensi militer di Venezuela hingga ancaman tarif baru terhadap Uni Eropatelah mengirim sinyal jelas ke pasar: dunia sedang memasuki fase ketidakpastian tinggi . Dalam situasi seperti ini, investor institusional dan bank sentral secara alami menarik dana dari aset berisiko dan berlindung di aset yang telah teruji waktu: emas .

Dari sisi spekulatif, China menjadi aktor kunci. Investor ritel di Negeri Tirai Bambu berbondong-bondong masuk ke pasar logam mulia dengan leverage tinggi, menciptakan premi harga di atas patokan global . Citigroup dalam catatan terbarunya menyebut investor ritel China cenderung mengikuti tren, serupa dengan pelaku di pasar derivatif AS. Bank investasi itu bahkan memproyeksikan perak bisa menyentuh US$150 per ons dalam tiga bulan ke depan jika permintaan masih berlanjut .

Yang menarik, dinamika ETF menunjukkan perbedaan arah antara emas dan perak. Harga emas didorong arus masuk ke ETF berbasis emas, sementara perak justru mencatat arus keluar hampir 30 juta ons senilai lebih dari US$3 miliar keluar dari ETF perak sejak awal Januari . Namun, aktivitas perdagangan tetap tinggi. iShares Silver Trust mencatat nilai transaksi hampir US$40 miliar dalam satu hari, mendekati volume perdagangan produk indeks saham utama .

Analis Citi melihat perak memiliki peran ganda: sebagai logam mulia dan komoditas industri. Ekspektasi permintaan dari sektor manufaktur dan energi bersih ikut memicu kenaikan, meskipun volatilitasnya jauh lebih tinggi dibanding emas .

Ketika "Aset Risiko" Benar-Benar Berperilaku seperti Aset Risiko

Jika logam mulia melesat karena status safe havennya, Bitcoin justru menunjukkan wajah asli yang selama ini diperdebatkan: ia adalah aset risiko, dan sedang tidak diminati.

Sepanjang Januari 2026, Bitcoin ditutup melemah 10,17% . Koreksi ini membuat harga BTC turun sekitar 40% dari puncaknya di tahun 2025 . Dalam 24 jam terakhir, sempat terekam penurunan 6,9% .

Analis di Sygnum Bank merinci sejumlah faktor yang menekan kripto :

Pertama, terjadi rotasi modal jangka pendek ke saham teknologi dan perusahaan AI yang memiliki beta tinggi. Investor lebih tertarik pada narasi kecerdasan buatan yang sedang naik daun dibanding kripto yang sedang sepi sentimen.

Kedua, likuiditas global sedang dalam fase ketat. Quantitative tightening (QT) oleh The Fed yang dimulai 2022 terus menguras likuiditas, meskipun suku bunga sudah dipangkas tiga kali pada 2025 . Kondisi likuiditas yang belum pulih sepenuhnya setelah peristiwa likuidasi besar 10 Oktober 2025 turut membatasi ruang gerak harga .

Ketiga, tekanan jual dari pemegang jangka panjang (long-term holders) mulai terasa. Meskipun ada tanda-tanda awal akumulasi, secara agregat pemegang BTC mengalami realisasi kerugian bersih untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023 .

Yang paling mencengangkan datang dari arus dana institusional. Data ETF Bitcoin Spot mencatatkan rekor arus keluar mingguan terbesar sepanjang sejarah pada pekan 26–30 Januari 2026, dengan total outflow mencapai US$1,49 miliar . Secara keseluruhan, November-Desember 2025 mencatat outflow US$4,57 miliar terbesar sejak ETF diluncurkan .

Analis di BTCC menyebut fenomena ini sebagai "kekalahan telak" ETF kripto di awal tahun. Menurut mereka, kombinasi sikap hawkish The Fed dan kekhawatiran regulasi membuat "uang pintar" menarik diri sementara .

PAGE 1 OF 2

About the Author

K

Kurniawan

Market Analyst

Experienced technical analyst specializing in algorithmic trading strategies and market microstructure. Passionate about sharing insights on trading psychology and risk management.