Fenomena Langka 30 Tahun, Ketika Bank Sentral Lebih Percaya Emas daripada Dolar

Algo
Feb 16, 2026
15 min read
Fenomena Langka 30 Tahun, Ketika Bank Sentral Lebih Percaya Emas daripada Dolar

Pada Oktober 2025, sebuah tonggak sejarah yang nyaris luput dari perhatian publik terjadi di ruang-ruang rapat bank sentral dunia. Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, cadangan emas yang dikoleksi para pengelola uang negara secara kolektif melampaui nilai kepemilikan surat utang Amerika Serikat (Treasuries) .

Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah deklarasi bisu bahwa kepercayaan terhadap aset kertas paman Sam sedang diuji, dan bahwa logam kuning yang tidak memberikan bunga ini kembali naik tahta sebagai primadona cadangan devisa.

Mari kita lihat angkanya. Dan percayalah, angka ini membuat siapa pun yang masih menganggap emas sebagai "investasi kolot" harus berpikir dua kali.

3.220,2 Ton dalam Tiga Tahun,Aksi Borong Terbesar dalam Sejarah

Dimulai pada 2022, bank-bank sentral global menginjak pedal gas. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian emas oleh sektor resmi mencapai rekor 1.136 ton sepanjang 2022 tertinggi sepanjang sejarah . Bukan karena harga murah, karena harga saat itu juga sedang dalam tren naik.

Tren ini tidak berhenti. Pada 2023, bank sentral kembali membeli 1.037 ton . Memasuki 2024, rekor kembali pecah dengan total pembelian mencapai 1.180 ton .

Jika dijumlah sejak 2022 hingga 2024, total akumulasi mencapai 3.353 ton melampaui angka 3.220,2 ton yang disebutkan. Untuk memberi perspektif: jumlah ini hampir dua kali lipat dari total pembelian pada periode 2014-2016. Dan yang lebih penting, volume tahunan saat ini berada 40-60% di atas rata-rata pembelian historis yang biasanya berkisar 400-600 ton per tahun .

Ini bukan sekadar "sedang suka-suka beli". Ini adalah pergeseran struktural yang belum pernah kita lihat sejak sistem Bretton Woods bubar di awal 1970-an.

Siapa Saja Pemain Terbesarnya?

Tiga nama besar mendominasi daftar pembeli paling agresif dalam beberapa tahun terakhir: China, Polandia, dan Turki.

1. China: Konsistensi Tanpa Henti

People's Bank of China (PBoC) tercatat melakukan pembelian selama 10 bulan beruntun hingga Agustus 2025 . Total cadangan emas China kini telah melampaui 2.300 ton, setara sekitar 7% dari total cadangan devisa mereka . Yang menarik, China tetap membeli meskipun harga emas global terus mencetak rekor tertinggi . Ini sinyal bahwa motivasi mereka lebih bersifat strategis jangka panjang, bukan sekadar spekulasi harga.

2. Polandia: Pembeli Paling Agresif Akhir-akhir Ini

National Bank of Poland (NBP) menjadi pembeli terbesar pada November 2025 dengan tambahan 12,4 ton melanjutkan aksi beli 15,6 ton pada bulan sebelumnya . Total cadangan emas Polandia kini mencapai 543 ton, setara hampir 28% dari total cadangan devisa mereka . Persentase ini termasuk tertinggi di kawasan Eropa Timur.

3. Turki dan India: Pembeli Aktif dari Asia

Bank sentral Turki tercatat membeli 4,9 ton pada November 2025 , sementara India meskipun sempat melambat di 2025, secara total cadangan emasnya mencapai 880,2 ton dengan nilai di atas US$100 miliar . Reserve Bank of India (RBI) sempat membeli 72,6 ton pada 2024, rekor tertinggi mereka .

Pembeli besar lainnya termasuk Kazakhstan yang tercatat membeli 18,21 ton pada Q3 2025 , Brasil dengan akumulasi 43 ton dalam tiga bulan beruntun hingga November 2025 , serta Uzbekistan dan Ceko yang konsisten menambah cadangan.

PAGE 1 OF 3

About the Author

A

Algo

Market Analyst

Experienced technical analyst specializing in algorithmic trading strategies and market microstructure. Passionate about sharing insights on trading psychology and risk management.