Pernahkah Anda menyadari bahwa dialog di atas hampir selalu terjadi di setiap meja kopi, webinar teknologi, atau grup chat keluarga Anda? Kita semua seperti terjebak dalam script yang sama seolah-olah ada template bawaan untuk membicarakan masa depan yang didominasi kecerdasan buatan. Tapi di balik candaan dan keheningan canggung itu, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang mulai menggerogoti fondasi sistem ekonomi kita: Bagaimana kapitalisme bisa bertahan jika tak ada yang memiliki pekerjaan lagi?
Paradoks Paling Fundamental
Kapitalisme, dalam bentuknya yang paling polos, adalah sistem yang mengandalkan dua hal: modal dan tenaga kerja. Modal membutuhkan tenaga kerja untuk menghasilkan barang dan jasa. Tenaga kerja membutuhkan upah untuk menjadi konsumen. Konsumen membutuhkan uang untuk membeli produk yang dihasilkan modal. Ini adalah siklus yang indah, sederhana, dan yang terpenting saling bergantung.
Tapi bayangkan skenario ini: AI dan otomasi telah begitu canggih hingga hampir setiap pekerjaan dari supir truk, kasir, penulis, desainer, hingga analis keuangan bisa dilakukan oleh algoritma dengan biaya sepersekian upah manusia. Perusahaan-perusahaan bersorak gembira. Margin laba melejit. Efisiensi mencapai puncaknya.
Lalu apa yang terjadi?
Tak ada yang punya uang untuk membeli apa pun.
Ini bukan fiksi ilmiah. Ini adalah glitch logis dalam kode sumber kapitalisme. Sistem yang selama ini dipuja karena efisiensinya ternyata memiliki bug fatal: ia sangat baik dalam mengoptimalkan biaya tenaga kerja hingga titik di mana ia secara perlahan membunuh basis konsumennya sendiri.
Tiga Orang dalam Satu Percakapan
Mari kita uraikan tiga karakter dalam dialog pembuka kita, karena masing-masing mewakili respons umum terhadap krisis ini:
Orang Pertama: "Bagaimana dengan Pekerjaan?"
Orang ini menyadari bahwa pekerjaan bukan sekadar sumber pendapatan. Pekerjaan adalah identitas. Pekerjaan adalah struktur harian. Pekerjaan adalah cara kita membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa kita berguna. Ketika AI menghapus 40% pekerjaan dalam satu dekade seperti yang diprediksi banyak lembaga kita tidak hanya kehilangan gaji. Kita kehilangan makna.
Dan inilah yang menakutkan: sejarah manusia tidak pernah benar-benar menghadapi situasi di mana kebanyakan orang tidak dibutuhkan untuk produksi ekonomi. Revolusi Industri memindahkan pekerja dari ladang ke pabrik. Revolusi Digital memindahkan mereka dari pabrik ke layar. Tapi AI? AI tidak memindahkan. AI menggantikan.
Orang Kedua: "Universal Basic Income!"
Universal Basic Income (UBI) terdengar seperti solusi ajaib: beri setiap orang uang tunai tanpa syarat, biarkan AI bekerja, dan semua orang hidup bahagia. Beberapa eksperimen di Finlandia dan Kenya menunjukkan hasil positif—tingkat stres menurun, kewirausahaan meningkat.
Tapi UBI menyembunyikan pertanyaan yang lebih dalam: Dari mana uang itu berasal? Jika perusahaan-perusahaan teknologi yang diotomasi AI menjadi sumber utama pajak, apakah kita tidak sedang membangun masyarakat di mana kehidupan setiap orang bergantung pada kemurahan hati segelintir korporasi raksasa? Dan lebih penting lagi: apakah hidup hanya soal uang? Jika Anda diberi Rp5 juta setiap bulan tapi tidak punya tujuan untuk bangun di pagi hari, apakah itu kehidupan yang layak?
Orang Ketiga: "Belajar Coding... Eh, Tunggu."
Ini mungkin yang paling tragis dan lucu sekaligus. Orang ketiga mencoba menawarkan solusi individual untuk masalah sistemik. "Kalau pekerjaanmu hilang, upskill dirimu!" Tapi dalam dunia di mana AI bisa menulis kode lebih baik dari programmer junior dalam hitungan detik, belajar coding bukan lagi tiket keamanan. Ini seperti menyarankan seseorang untuk belajar menenun keranjang saat pabrik tekstil otomatis baru saja dibangun di seberang jalan.
Keheningan orang ketiga setelah sadar apa yang diucapkannya adalah momen paling jujur dalam percakapan itu. Karena dalam hati, kita semua tahu: Tidak ada skill manusia yang benar-benar aman dari otomasi selamanya.
Glitch yang Lebih Dalam
Di sinilah letak glitch yang sesungguhnya. Kapitalisme tidak hanya adalah sistem ekonomi. Ia adalah narasi—cerita yang kita semua sepakati untuk dipercaya. Ceritanya sederhana: kerja keras → hasil → kemajuan → kebahagiaan.
Tapi AI merusak rantai kausalitas itu. Dalam dunia pasca-AI, kerja keras tidak lagi menjamin hasil. Hasil tidak lagi selalu membutuhkan kerja keras manusia. Dan tanpa kerja keras sebagai mekanisme distribusi, seluruh narasi mulai retak.
Yang ironis adalah bahwa para pengusaha dan pemodal pahlawan dalam cerita kapitalisme sedang dengan antusias menggali kuburan mereka sendiri. Mereka berlomba-lompa mengotomasi, tanpa menyadari bahwa konsumen akhir mereka adalah pekerja yang baru saja di PHK kan oleh algoritma mereka sendiri. Ini seperti memotong cabang pohon tempat Anda duduk, hanya karena Anda sedang sibuk memajang trofi "Pemotong Cabang Terbaik."
Masa Depan yang Mungkin
Jadi, apa yang terjadi ketika tak ada yang bekerja lagi?
Mungkin kita akan melihat transisi yang berantakan. Gelombang pertama: kemarahan. Protes. Tuntutan regulasi AI yang datang terlambat. Gelombang kedua: eksperimen sosial yang aneh pajak robot, dividen kekayaan data, ekonomi gig yang semakin tidak masuk akal. Gelombang ketiga: mungkin, hanya mungkin, kita mulai bertanya pertanyaan yang seharusnya ditanyakan sejak lama.
Jika pekerjaan bukan lagi cara kita membuktikan nilai diri, lalu apa yang membuat hidup kita berharga?
Mungkin kita akan menemukan bahwa manusia tidak diciptakan untuk melakukan tugas-tugas berulang di kantor. Mungkin kita akan menemukan kembali seni, komunitas, perawatan, pendidikan, eksplorasi semua hal yang selama ini dianggap "tidak produktif" karena tidak menghasilkan laba kuartalan. Mungkin kita akan membangun sistem di mana kehidupan yang baik tidak lagi diukur dari jumlah jam yang Anda kerjakan, tapi dari kedalaman hubungan yang Anda bangun dan kontribusi yang Anda berikann bukan kepada perekonomian, tapi kepada sesama manusia.
Penutup: Keheningan yang Menggema
Kembali ke meja kopi itu. Orang ketiga sudah terdiam. Percakapan mungkin bergeser ke topik yang lebih aman cuaca, atau mungkin rencana liburan. Tapi keheningan itu tetap ada, menggema di sudut-sudut pikiran kita.
Kita semua merasakannya. Sesuatu sedang berubah. Sesuatu yang fundamental. Dan mungkin hanya mungkin keheningan itu bukan tanda kegagalan berpikir, melainkan tanda bahwa otak kita sedang berusaha keras memproses realitas yang tidak lagi cocok dengan kerangka lama kita.
Kapitalisme punya glitch. AI adalah pemicunya. Tapi glitch itu juga bisa menjadi celah celah untuk memikirkan ulang apa artinya menjadi manusia di abad ke-21.
Dan mungkin, hanya mungkin, keheningan orang ketiga itu adalah awal dari percakapan yang benar-benar penting.


%3Astrip_icc()%3Aformat(jpeg)%2Fkly-media-production%2Fmedias%2F2949377%2Foriginal%2F070555900_1571979343-HP_malam_hari_HL.jpg&w=3840&q=75)

