Prospek Logam 2026! Target Emas US$6.000 dan Nikel US$17.000, Saham Apa yang Diuntungkan?

Memasuki tahun 2026, pasar logam menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, emas masih menjadi primadona dengan proyeksi harga yang terus meningkat. Di sisi lain, nikel mulai menunjukkan taringnya setelah beberapa tahun tertekan oleh banjir pasokan.
Kombinasi faktor makro mulai dari pembelian bank sentral yang agresif, kekhawatiran fiskal Amerika Serikat, hingga potensi pelemahan dolar—menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kenaikan harga logam. Sementara untuk nikel, kebijakan pemerintah Indonesia memegang peran kunci.
Artikel ini akan mengupas proyeksi harga kedua logam tersebut serta saham-saham di Bursa Efek Indonesia yang berpotensi diuntungkan.
Proyeksi Harga Emas 2026 Menuju US$6.000
Konsensus Pasar
Target harga emas tahun ini cukup bullish. Beberapa bank investasi global telah mempublikasikan proyeksi mereka:
JP Morgan memperkirakan emas bisa menyentuh US$6.300 per ons pada akhir 2026, didorong oleh pembelian bank sentral yang masih kuat .
Deutsche Bank dan sejumlah bank besar lainnya memasang target US$6.000 per ons sebagai ekspektasi jangka panjang .
Indo Premier Sekuritas dalam risetnya memperkirakan harga rata-rata emas 2026 di US$5.200 per ons, dengan target akhir tahun US$6.000 per ons .
Proyeksi ini cukup menarik mengingat saat ini harga emas sedang terkonsolidasi di kisaran US$4.800–US$5.000 per ons setelah koreksi dari level tertinggi US$5.600 akhir Januari lalu .
Faktor Pendukung
1. Bank Sentral Masih Borong

sentral global mencatat total pembelian emas sepanjang 2025 mencapai 863,3 ton . Meski lebih rendah dibanding rekor tahun-tahun sebelumnya, angka ini masih jauh di atas rata-rata dekade sebelumnya yang sekitar 473 ton per tahun.
JP Morgan memperkirakan pembelian tahun 2026 masih akan mencapai 800 ton, didorong oleh kebutuhan diversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar . Bank sentral China, Polandia, dan India tercatat sebagai pembeli paling aktif.
2. Arus Masuk ETF
ETF emas global mencatat arus masuk selama enam bulan berturut-turut hingga awal 2026 . Total aset kelolaan ETF emas melonjak dua kali lipat menjadi US$559 miliar pada akhir 2025 . Wilayah Asia menjadi pemimpin dalam akumulasi ini, didorong kekhawatiran risiko pasar.
3. Defisit Fiskal AS Makin Lebar
Ini mungkin faktor yang kurang banyak dibahas tapi cukup fundamental. Congressional Budget Office (CBO) memproyeksikan defisit anggaran AS 2026 mencapai US$1,85 triliun atau sekitar 5,8% dari PDB .
Dalam jangka panjang, rasio defisit terhadap PDB diperkirakan terus meningkat, mencapai 6,7% pada 2036 . Total utang publik diproyeksikan naik menjadi US$56,15 triliun atau 120% PDB pada 2036 .
Kondisi fiskal yang memburuk ini mendorong investor mencari aset safe haven di luar dolar. Emas menjadi salah satu tujuan utama.
4. Dolar Berpotensi Melemah

Dolar AS mencatat kinerja terburuk dalam delapan tahun terakhir sepanjang 2025, melemah 9% terhadap sekeranjang mata uang utama . Investor memperkirakan pelemahan akan berlanjut di 2026 seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan menyempitnya selisih suku bunga dengan mata uang utama lain .
5. Ketegangan Geopolitik
Konflik di Timur Tengah, ketegangan dagang AS-Tiongkok, dan isu Laut China Selatan masih menjadi latar belakang yang mendukung permintaan aset safe haven .
2. Proyeksi Harga Nikel 2026: US$17.000 per Ton

Berbeda dengan emas yang didorong permintaan investasi, katalis nikel lebih banyak datang dari sisi penawaran—tepatnya dari kebijakan pemerintah Indonesia.
Target Harga
Analis memperkirakan harga nikel LME akan berada di rata-rata US$17.000 per ton sepanjang 2026, naik dari US$15.000 pada 2025 .
Audrey, analis komoditas, memproyeksikan harga nikel di kisaran US$16.000—US$17.000 per ton dalam jangka pendek hingga menengah, jika pengetatan suplai global terjadi sesuai rencana .
Wahyu Laksono, Founder Traderindo, bahkan memperkirakan harga berpotensi menyentuh US$18.000 per ton jika permasalahan RKAB 2026 tidak teratasi dalam waktu dekat .
Faktor Pendukung: Kebijakan RKAB Indonesia
Pemerintah Indonesia berkomitmen memangkas kuota produksi bijih nikel (RKAB) dari sekitar 370 juta wmt menjadi 250–260 juta wmt untuk 2026 .
Realisasi produksi tahun lalu sekitar 300 juta wmt, sementara proyeksi permintaan 2026 diperkirakan 330–340 juta wmt. Dengan potensi tambahan impor bijih dari Filipina sebesar 30–40 juta wmt serta kemungkinan penyesuaian kuota di paruh kedua tahun, keseimbangan pasokan diperkirakan masih surplus tipis sekitar 100 ribu ton .
Meski secara hitungan matematis masih surplus, efek psikologis dari pemangkasan kuota telah mendorong harga nikel menguat lebih dari 25% dalam 30 hari terakhir. Harga sempat menyentuh US$17.703 per ton pada awal Februari lalu .
Saham-Saham yang Diuntungkan?
Untuk Eksposur Emas
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
ANTM menjadi pilihan paling obvious untuk eksposur emas di Bursa Efek Indonesia. Emiten pelat merah ini memiliki tambang emas utama di Pongkor dan Cibaliung, serta bisnis pemurnian logam mulia dengan merek "Logam Mulia" yang sudah dikenal luas.
Yang menarik, harga emas Antam di pasar domestik bergerak di kisaran Rp2,3 juta hingga Rp3,1 juta per gram sepanjang Januari 2026, dengan rata-rata Rp2,56 juta per gram . Dengan target harga emas global US$6.000, harga jual emas Antam berpotensi menguat lebih lanjut—meskipun tentu ada faktor kurs yang mempengaruhi.
PT Sumber Global Energy Tbk (EMAS)
Emiten berkode EMAS ini juga bisa menjadi alternatif untuk eksposur emas, meskipun dengan skala operasi yang lebih kecil dibanding ANTM .
Untuk Eksposur Nikel
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
INCO dipandang sebagai emiten nikel paling defensif saat ini. Alasannya sederhana: mereka sudah memperoleh persetujuan RKAB, sehingga kepastian operasional lebih terjamin dibanding emiten lain yang masih menunggu .
Eksposur INCO juga terkonsentrasi di segmen upstream yang relatif lebih resilien terhadap fluktuasi harga, dengan teknologi hidrometalurgi untuk nikel kadar tinggi yang menjadi preferensi industri baterai.
Memang, INCO sempat harus menyetop operasional tambangnya akibat RKAB eksisting yang berakhir pada 2025 . Namun setelah persetujuan diperoleh, prospeknya kembali cerah.
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
MBMA menawarkan cerita yang sedikit berbeda. Emiten ini memiliki integrasi dari tambang hingga smelter, dengan proyek-proyek ekspansi di segmen hilir baterai kendaraan listrik.
Potensi rerating bisa terjadi seiring penyelesaian proyek-proyek strategis mereka. Namun risikonya juga lebih tinggi dibanding INCO mengingat valuasi dan ekspektasi pertumbuhan yang sudah cukup tinggi.